Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Kisah Ahmad Bin Hambal dan Yahya Bin Main

Gambar
Berdusta atas nama agama demi amplop ------ Di sebutkan di dalam satu riwayat bahwa, suatu saat Imam Ahmad Bin Hambal dan Yahya Bin Main sholat di masjid rasafah, lalu ada tukang cerita berdiri di antara para jamaah dan berkata: {" Telah menceritakan kepadaku Ahmad Bin Hambal dan Yahya Bin Main, mereka berdua menceritakan dari Abdul Razzak dari Ma'mar dari Qotadah dari anas berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa yang membaca: LAILAHA ILLALLAH... Maka Allah akan membalas dari setiap kalimat seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas, dan bulunya terbuat dari batu permata.!! Lalu dia terus bercerita hingga kira-kira sampai 20 lembar, (andai ditulis) "}. Situasi ini membuat Imam Ahmad Dan Imam Yahya saling memandang satu sama lain, kemudia Imam Yahya bertanya kepada Imam Ahmad: Anda pernah meriwayatkan hadis ini? Imam Ahmad menjawab: Demi Allah, aku tidak pernah mendengar tentang hadis ini kecuali kali ini,. Ketika tukang cerita telah usai menyam...

Sepenggal kisah dalam penaklukkan Konstantinopel.

Gambar
Sepenggal kisah dalam penaklukkan Konstantinopel. Oleh: Dr. Ahmad Ikhwani Al-azhari Ketika mengepung benteng Konstantinopel, Sultan al-Fatih mengutus Ahmad Pasya, putra Waliyuddin, untuk menemui gurunya, seorang wali saleh, Syaikh Muhammad bin Hamzah yang masyhur dengan julukan Aq Syamsuddin, dan mengajaknya ke tempat pengepungan. Ketika sampai di tempat, Syaikh Aq Syamsuddin berkata, “Kaum muslimin akan berhasil memasuki benteng ini dari tempat “anu”, pada hari “anu” pada waktu pagi.” Ahmad Pasya mengisahkan, “Ketika tiba waktu yang disebutkan oleh Syaikh Aq Syamsuddin,  tentara kaum Muslimin belum juga berhasil menembus benteng tersebut. Kami sangat khawatir dengan keadaan itu. Saya pun segera pergi menemui Syaikh di dalam tendanya. Ketika sampai di depan tenda, salah satu pelayannya melarang saya untuk masuk ke dalam tenda sesuai dengan pesan Syaikh. Lalu saya mengangkat tali kain tenda dan melihat Syaikh sedang bersujud di atas lantai tanpa penutup kepala. Ia larut ...

Gerakan Isyarat Dalam Shalat Dapat Membatalkan Shalat?

Gambar
Bukan lagi asing definisi Kalam versi ulama nahwu , selagi memenuhi syarat yang empat maka itulah yang di sebut kalam yang sebenarnya.  Lalu, apakah bentuk isyarat seseorang yang di lakukan di dalam shalat dapat menempati posisi kalam / ungkapan? Sebab didalam banyak kasus, isyarat kerap kali menempati posisi kalam seperti interaksi penjual dan pembeli saat ijab-kabul dalam transaksi jual beli atau ijab-kabul calon suami dan wali dalam akad nikah bagi orang bisu atau tuna rungu. Dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw. pernah memberi isyarat kepada salah satu sahabatnya saat Nabi sedang dalam posisi shalat, andai kata Isyarat ini memiliki posisi seperti kalam maka shalat Nabi pasti batal dong... عن عائشة أم المؤمنين قالت: اشتكى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فدخل عليه ناس من أصحابه يعودونه، فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم جالسا، فصلوا بصلاته قياما، فأشار إليهم: أن اجلسوا، فجلسوا، فلما انصرف، قال: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فإذا ركع فاركعوا، وإذا رفع فارفعوا ، وإذا صلى جالسا...

Kenapa Riwayat Muwattha' Imam Malik Berbeda-beda?

Gambar
Imam Malik Bin Anas, Imam Daril Hijrah, lahir, tinggal dan wafat di Madinah Munawwarah. Di sini pula beliu menulis maha karya terbaiknya; al-Muwattha' setelah beliau menyusun bab-bab-nya dengan sempurna, menyaring riwayat-riwayatnya berikut sanad-sanadnya. Hingga maha karya ini begitu terkenal ke berbagai negara dan menjadi rujukan para tokoh-tokoh islam di berbagai negara antara lain Mesir, Yaman, Iraq, Khurasan, Afrika dan Spanyol. Kesempurnaan Muwattha' ini pula yang mendorong para ulama untuk membawa naskah Muwattha' dari Madinah ke daerah masing-masing, kemudian di ajarkan di berbagai majlis dan halaqahnya. Dari sini-lah bermula naskah dan riwayat Muwattha' berbeda-beda, mulai riwayat-Muwattha' yang paling lemah, hingga yang paling kuat dan akurat. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa riwayat Muwattha' mencapai 30 macam naskah, namun yang paling masyhur adalah Muwattha' riwayat Yahya Bin Yahya al-Laitsi al-Andalusi. Dan yang paling aman ialah...