Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Pendapat Tiga Ulama Besar Asal Mesir Tentang Hukum Merayakan Hari Ibu

✓ Hukum merayakan hari ibu versi Syekh Mutawalli al-Sya'rawi:  "Pada dasarnya, setiap waktu kita telah merayakan hari ibu, kita mencium tangan mereka, meminta doa kepada mereka dan memberi oleh-oleh untuk mereka. Jadi merayakan hari ibu seperti yang terjadi saat ini sudah tidak perlu." ✓ Hukum merayakan hari ibu veri sekh Ali Jumah, beliau berkata: "Merayakan hari ibu di perbolehkan menurut syariat, bahkan merupakan dari syiar dan bentuk etika yang baik terhadap orang tua yang telah di perintahkan oleh agama sepanjang masa, Allah Swt Berfirman: "وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ" Di sisi lain, Agama islam tidak pernah melarang untuk mengucapkan hari ibu, tidak ada dalil al-Quran ataupun Hadis yang melarangnya." ✓ Dr. Ahmed Al-Tayeb, Sheikh Al-Azhar, mengatakan tentang hukum merayakan Hari Ibu dalam salah satu wawancaranya di salur...

Keberadaan dan Kiprah Kaum Perempuan dalam Dunia Pendidikan

Mengkaji dan menelaah seputar keterlibatan kaum perempuan memang selalu mendapat perhatian orang banyak dan menarik untuk di kaji dan di kembangkan. Hal ini bisa dibuktikan dengan fakta keterlibatan mereka dalam menjaga dan mengembangkan teks-teks agama di periode awal islam, di mana sosok-sosok wanita cerdas luar biasa seperti Khadijah senantiasa menemani perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw kala itu. Di susul sosok Aisyah dan Hafsah yang turut andil dalam mengembangakan pengaruh khalifah Abu Bakar dan Umar saat menjabat sebagai khalifah. Sejarah mencatat bahwa Umar bin Khattab lebih mempercayai anak perempuannya daripada anak laki-lakinya, hal ini bisa di buktikan dengan tindakan Umar yang mempercayakan Aisyah sebagai pengurus administrasi dan properti serta beberapa hal yang berkaitan dengan kebutuhan publik (sedekah). Hingga masa salaf, tidak sedikit peran perempuan di dalam mengembangkan dunia pendidikan, berdasarkan teks-teks sejarah membuktikan bahwa para ulama ahli hadis, sejara...

Islam Tersebar Bersama Hunusan Pedang?

Pada dasarnya, Istilah ini di sematkan pada islam karena begitu cepat berkembang, di sisi lain, istilah ini juga memiliki konotasi negatif, yakni bahwa penyebaran islam hanya memakai sistem kekerasan, penjajahan, penaklukan, penjarahan dan semacamnya. Terlebih jika hanya membaca beberapa buku hadis secara terpetak, tanpa membandingkan dengan banyak ragam teks hadis dan syarah yang lain, tentu bisa berakibat fatal. [Salah satunya adalah hadis yang di sabdakan Nabi Muhammad Saw berikut, kemudian dijelaskan secara ringkas oleh Ibn Rajab al-Hambali. Berikut bunyi hadisnya: Aku diutus melalui pedang, barang siapa tidak menerima dakwah ini setelah mendengar hujjah dan penjelasan, maka kami ajak lewat pedang. || HR: Ahmad. Jika pemahaman pengalan hadis ini hanya berdasarkan kitab yang ditulis Ibnu Rajab, maka bisa berakibat sangat fatal, sebab kalimat yang ia pakai lumayan berat jika tidak di sandingkan dengan syarah kitab-kitab hadis yang lain.] Secara logis, tersebarnya islam kala itu meman...

Syekh Umar Hamdan dan Sayyid Ahmad bin Shiddîq al-Ghumari

Gambar
Pada mulanya dalam madrasah fiqh Syâfi'iyyah, Ibnul Mahâmili (w. 415 H) menulis kitab lubâbul fiqh. Lalu, al-Imâm Waliyuddin Abu Zur'ah (w. 826 H) meringkas kitab tersebut dan menamainya dengan Tanqîhul lubâb. Tanqîhul lubâb kemudian diringkas lagi oleh Syaikhul Islâm Zakariyya al-Anshâri (w. 926 H) dan menamainya dengan ﺗﺤﺮﻳﺮ ﺗﻨﻘﻴﺢ اﻟﻠﺒﺎﺏ. Lalu kitab ini disyarahkan oleh beliau sendiri sehingga menjadi kitab dalam potret di bawah ini yang tebalnya sekitar 300-an halaman.  Lalu, apa kaitan Syekh Umar Hamdan -al-Mâliki -dengan Sayyid Ahmad -yang saat itu masih bermadzhab Mâliki-? Suatu hari, Sayyid Ahmad mengadu pada beliau bahwa ilmu furu' (fiqh) itu tak bisa diterima jika tidak mengetahui dalilnya, sementara kitab-kitab madzhab Mâliki -sepengetahuan beliau saat itu- tidak disebutkan dalilnya.  Syekh Umar Hamdan menjawab: Jika kamu ingin mengetahui dalilnya, maka kamu harus membaca kitab-kitab Syâfi'iyyah. Karena, kitab-kitab Syâfi'iyyah itu meskipun tipis, menyajik...

Cinta Itu Tumbuh Dari Kawan Menjadi Besan, Hingga Berjajar di Pekuburan

Gambar
Syekh Muhammad Sirâjiddin mempunyai hubungan istimewa dengan Syekh Ahmad al-Tirmânîni¹ hingga putera Syekh Muhammad Sirâjiddin yang bernama Yûsuf Sirâjiddin² dinikahkan dengan puteri beliau. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putera yang diberi nama Syekh Ahmad Sirâjiddîn Tirmânîni³, dan (kebetulan) Syekh Ahmad al-Tirmânîni ini hanya memiliki dua puteri. Suatu ketika Syekh Muhammad Sirâjiddin bermimpi bahwa Syekh al-Tirmânîni memakaikan imâmah (serban) besar pada beliau dan ketika mimpi ini diceritakan pada Syekh al-Tirmânîni, beliau pun berkata: Kamu akan punya putera yang kini masih berada di kandungan ibunya, dan kelak akan memakai 'Imâmah (serban) itu -maksudnya serban Syekh Ahmad Tirmânîni- .  Selanjutnya beliau berkata: Kasihlah ia nama Muhammad Najib Sirâjiddin⁴. Sering kali Syekh Muhammad Sirajiddin menyertai Syekh Muhammad Najib mendatangi dars Syekh al-Tirmânîni diantaranya dars di Masjid Jâmi' Umawi al-kabîr hari senin setelah shalat dhuhur. Dan Syekh M...

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri

Gambar
Ketika al-Imam al-Qaffâl al-Syâsyi (w. 365 H) mampu membuat gembok mini beserta kuncinya seberat 1 dâniq (0.496 gram), masyarakat kagum, heboh luar biasa, nama beliau viral. Namun ketika seorang Abu Bakar al-Qaffâl -kelak terkenal dengan sebutan al-Imam al-Qaffâl al-Shaghîr- mampu membuat gembok lebih mini lagi beserta kuncinya seberat satu thassûj (¼ dâniq= 0.124 gram), masyarakat menyukainya, tapi tak sempat viral. Ia pun mengadu pada sahabatnya: Tidakkah kau tahu bahwa segala sesuatu tergantung hoki? Al-Syâsyi membuat gembok beserta kuncinya seberat 1 dâniq, sebab itu virallah namanya (bergemuruh suara penduduk negeri menyebut-nyebut namanya). Sementara Aku membuat gembok seberat ¼ dari berat buatannya, gak ada yang menyebut-nyebut namaku.  Sahabatnya pun berkata:  Namanya disebut-sebut itu hanyalah karena ilmu, bukan karena gembok. Ia pun termotivasi dan serius mendalami ilmu (fiqh), padahal saat itu usianya telah mencapai 40 tahun. Ia lalu mendatangi seorang Syekh di Merv...

Ketika Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari tenggelam bersama kitab-kitab langka

Gambar
Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menceritakan kisah ini dalam kitab beliau: Telah terjadi insiden pada Syaikh (Guru) kami al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari -Mudah-mudahan Allah merahmati beliau-, (Wakil Syaikh al-Islam di era Daulah Utsmaniyyah, hijrah beserta agamanya dari Turki ke Kairo, lahir tahun 1296 H, dan wafat tahun 1371 H) di saat masa kuhûlah (usia antara 30 - 50 tahun) beliau tenggelam hampir-hampir wafat andainya Allah tak memberi kesempatan beliau untuk tetap hidup dan tenggelam pula sejumlah manuskrip yang berharga. Beliau senantiasa membawa/ditemani manuskrip-manuskrip itu baik ketika dalam perjalanan maupun ketika di rumah karena begitu berharganya dan begitu sayangnya, hingga beliau terus-menerus berduka sepanjang hidup beliau. Insiden itu terjadi tahun 1336 H (artinya terjadi saat usia beliau 40 tahun), saat itu beliau berada di Kastamonu dan hendak kembali ke Istanbul. Saat itu musim dingin, sehingga tidak memungkinkan menempuh perjalanan lewat darat kar...

Syekh Abdullah Sirajuddin

Gambar
Ketika Aku telah merampungkan menyusun kitab ini yang Aku namai: سيدنا محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم - شمائله الحميدة خصاله المجيدة - Aku bermimpi melihat Nabi ﷺ. Beliau tiba dari safar bersama para sahabat -Radhiyallâhu 'anhum- seperti ada debu safar pada beliau dan beliau hendak mandi. Tiba-tiba beliau memerintahkan Aku untuk mengambilkan air untuk mandi. Aku pun berangkat bersama Sayyiduna Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslamy Radhiyallâhu 'anhu -beliau ini adalah khadim air untuk wudhu dan mandi beliau ﷺ -, kami berdua berangkat menuju bak besar dan meletakkannya pada sebuah periuk hingga beliau ﷺ datang dan melihat air itu. Beliau pun terkejut, lalu memalingkan muka padaku sembari berkata: Engkau khadimku yang tak terpisahkan. Batinku berkata: Wah... betapa beruntungnya! Orang-orang berharap-harap agar dapat berkidmah pada Rasulullah ﷺ meski sebentar, dan Rasulullah telah merekrutku menjadi khadim beliau yang tak terpisahkan. Betapa senang dan bahagianya diri...