Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Syekh Umar Hamdan dan Sayyid Ahmad bin Shiddîq al-Ghumari

Gambar
Pada mulanya dalam madrasah fiqh Syâfi'iyyah, Ibnul Mahâmili (w. 415 H) menulis kitab lubâbul fiqh. Lalu, al-Imâm Waliyuddin Abu Zur'ah (w. 826 H) meringkas kitab tersebut dan menamainya dengan Tanqîhul lubâb. Tanqîhul lubâb kemudian diringkas lagi oleh Syaikhul Islâm Zakariyya al-Anshâri (w. 926 H) dan menamainya dengan ﺗﺤﺮﻳﺮ ﺗﻨﻘﻴﺢ اﻟﻠﺒﺎﺏ. Lalu kitab ini disyarahkan oleh beliau sendiri sehingga menjadi kitab dalam potret di bawah ini yang tebalnya sekitar 300-an halaman.  Lalu, apa kaitan Syekh Umar Hamdan -al-Mâliki -dengan Sayyid Ahmad -yang saat itu masih bermadzhab Mâliki-? Suatu hari, Sayyid Ahmad mengadu pada beliau bahwa ilmu furu' (fiqh) itu tak bisa diterima jika tidak mengetahui dalilnya, sementara kitab-kitab madzhab Mâliki -sepengetahuan beliau saat itu- tidak disebutkan dalilnya.  Syekh Umar Hamdan menjawab: Jika kamu ingin mengetahui dalilnya, maka kamu harus membaca kitab-kitab Syâfi'iyyah. Karena, kitab-kitab Syâfi'iyyah itu meskipun tipis, menyajik...