Keberadaan dan Kiprah Kaum Perempuan dalam Dunia Pendidikan

Mengkaji dan menelaah seputar keterlibatan kaum perempuan memang selalu mendapat perhatian orang banyak dan menarik untuk di kaji dan di kembangkan. Hal ini bisa dibuktikan dengan fakta keterlibatan mereka dalam menjaga dan mengembangkan teks-teks agama di periode awal islam, di mana sosok-sosok wanita cerdas luar biasa seperti Khadijah senantiasa menemani perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw kala itu. Di susul sosok Aisyah dan Hafsah yang turut andil dalam mengembangakan pengaruh khalifah Abu Bakar dan Umar saat menjabat sebagai khalifah.

Sejarah mencatat bahwa Umar bin
Khattab lebih mempercayai anak perempuannya daripada anak laki-lakinya, hal ini bisa di buktikan dengan tindakan Umar yang mempercayakan Aisyah sebagai pengurus administrasi dan properti serta beberapa hal yang berkaitan dengan kebutuhan publik (sedekah).

Hingga masa salaf, tidak sedikit peran perempuan di dalam mengembangkan dunia pendidikan, berdasarkan teks-teks sejarah membuktikan bahwa para ulama ahli hadis, sejarah, fikih, linguistik dan lain-lain yang didominasi oleh kaum laki-laki justru tidak sedikit dari kalangan mereka yang berguru pada kaum perempuan. Meskipun, untuk mendeteksi maha karya kaum perempuan ini sangat jarang dan terbilang sulit, disebabkan oleh peralihan kekuasaan atau politik di era itu, sehingga mengakibatkan banyaknya naskah yang hilang, terlebih maha karya kaum laki-laki.

Keterlibatan kaum perempuan dalam dunia pendidikan telah di rekam oleh al-Imam Abdul Hayyi bin Abdul Kabir al-Kattani, di dalam bukunya yang berjudul:

فهرس الفهارس والأثبات ومعجم المعاجم والمشيخات والمسلسلات. ج:٢ / ص  : ٦٢٤

al-Kattani berkata: "Ketahuilah bahwa daftar guru besar dari kalangan kaum wanita sangatlah banyak, bahkan tidak terhitung jumlahnya, adapun dari sekian cendekiawan wanita-wanita yang saya catat ini hanyalah ringkasan saja".

Tidak berhenti di situ, guru basar dari kalangan wanita juga di rekam oleh beberapa buku berikut:

1. al-A'lam, Karya az-Zirikli. Di buku ini az-Zirikli mencatat setidaknya 10 orang nama guru besar dari kalangan perempuan yang memiliki karya, di antara nama itu adalah Syahidah ad-Dinawariyah.

2. Hadiyah al-Arifin; Asma al-Muallifin wa atsar al-Mushannifin, Karya Ismail al-Babani. Di buku ini, Ismail mencatat dua nama guru besar dari kalangan perempuan. Pertama: Zaib an-Nisa al-Hindiyah, penulis buku yang berjudul; Zaib at Tafasir. Kedua: Aisyah al-Bauniyah, di mana maha karya beliau sangat familiar di kalangan kaum perempuan.

3. A'lam an-Nisa, karya Umar Ridha. Di buku ini, penulis setidaknya menghimpun nama-nama orang besar dari kalangan wanita setidaknya 1000 nama yang di sebutnya. Namun dari sekian banyak nama ini, hanya sekitar 10 orang yang di klaim memiliki karya. 

Dari sini, setidaknya kita bisa menyimpulkan bahwa keradaan sosok kaum perempuan di dalam dunia pendidikan sangatlah besar, meskipun dari sekian cendekiawan kaum wanita ini hanya beberapa saja yang tercatat memiliki karya, sama sekali tidak mengurangi peran dan sumbangsih mereka di dalam dunia pendidikan di bidang masing-masing.

Namun, apa benar kaum perempuan yang memiliki karya hanya sebatas ini saja, menimbang berdasarkan catatan sejarah sebagai satu-satunya sumber yang bisa kita akses saat ini, Kalau memang benar demikian, lalu apa faktornya?

Dalam hal ini, setidaknya terdapat beberapa faktor, kenapa dari kaum perempuan tercatat tidak banyak yang memiliki karya, menimbang dari sisi keilmuan, mereka tidak kalah jauh dari kaum laki-laki. Berikut beberpa faktornya:

Pertama: Ruang dan waktu yang terbilang sempit, hal ini disebabkan tabiat yang dimilikinya, wanita sebagai pemandu rumah tangga dan sebagainya,  belum lagi ketika wanita hamil hingga melahirkan, disusul mendidik seorang anak, bahwa seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, hal ini tentu memakan waktu yang tidak sedikit, sehingga ruang dan kesempatan mereka untuk menulis terbilang berkurang dan terbatas.

Kedua: Mayoritas kaum wanita lebih cenderung suka mendengar lalu menghafal, ketimbang menyampaikan pengetahuannya lewat karya tulis, hal ini bisa di buktikan dengan banyaknya kaum wanita yang ahli syair, sastra, hadis dan lain-lain, namun tidak tercatat memiliki karya.

Jika kita melihat karya-karya ulama dari kalangan laki-laki seperti Ibnu Hajar, al-Dzahabi,  as-Syakhawi dan lain-lain, maka akan kita temukan bahwa sebagian besar mereka mengambil riwayat dari kaum perempuan yang mayoritas dari mereka (kaum perempuan) adalah ahli dalam bidang hadis.

Ketiga: Para sejarawan cenderung tidak mecatat cendekiawan kaum perempuan, di sebabkan oleh kehawatiran, jika nantinya disela-sela terjemah, mereka berpapasan dengan hal yang tidak layak di konsumsi umat, sebab ahwal seorang perempuan sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat privasi. 

Setidaknya, tiga faktor inilah penyebab minimnya terjemah seputar kaum perempuan. di sisi lain, memang alasan ini sangat patut disayangkan, sebab catatan sejarah merupakan salah satu ikon khusus yang dapat memotifasi para kaum wanita dan laki-laki secara umum untuk senantiasa berkembang dalam bidang pendidikan.

Alhasil, peran perempuan di dalam dunia pendidikan sangatlah besar,  tidak elok rasanya jika harus berdebat perihal andil mereka yang di klaim memiliki dimensi berbeda dari kaum laki-laki. Wallahu A'lam


|| Share jika dirasa bermanfaat untuk anda dan orang lain.

Ismail Abdll
Fak. Ushuluddin Hadis, Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meninjau Ulang Kritikan Habib Hanif Alatas terhadap fatwa Habib Ali al-Jufri perihal legalitas mengucapkan "Selamat Natal".

Legalitas Hadis Daif Dalam Perspektif al-Bani (Tokoh paling berpengaruh sekte salafi-wahhabi)