Ketika Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari tenggelam bersama kitab-kitab langka
Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menceritakan kisah ini dalam kitab beliau:
Telah terjadi insiden pada Syaikh (Guru) kami al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari -Mudah-mudahan Allah merahmati beliau-, (Wakil Syaikh al-Islam di era Daulah Utsmaniyyah, hijrah beserta agamanya dari Turki ke Kairo, lahir tahun 1296 H, dan wafat tahun 1371 H) di saat masa kuhûlah (usia antara 30 - 50 tahun) beliau tenggelam hampir-hampir wafat andainya Allah tak memberi kesempatan beliau untuk tetap hidup dan tenggelam pula sejumlah manuskrip yang berharga.
Beliau senantiasa membawa/ditemani manuskrip-manuskrip itu baik ketika dalam perjalanan maupun ketika di rumah karena begitu berharganya dan begitu sayangnya, hingga beliau terus-menerus berduka sepanjang hidup beliau.
Insiden itu terjadi tahun 1336 H (artinya terjadi saat usia beliau 40 tahun), saat itu beliau berada di Kastamonu dan hendak kembali ke Istanbul. Saat itu musim dingin, sehingga tidak memungkinkan menempuh perjalanan lewat darat karena salju tebal.
Akhirnya beliau menempuh perjalanan lewat laut hingga ketika sampai di pelabuhan Arili, beliau naik perahu menuju Aktaş Şehir, pelabuhan daerah Düsçe, untuk mengunjungi keluarga beliau di situ.
Ketika mendekati pantai AktaşŞehir, laut itu bergelombang besar dan semua penumpang perahu itu terbalik, tetapi semua penumpang berpegang pada perahu itu. Seketika dua orang yang berada di pantai itu -yang melihat insiden ini- turun dan berenang dengan membawa tali panjang. Lalu, dua orang itu mengikat perahu dan kembali ke orang yang berada di tepi pantai untuk menariknya. Di saat menarik itu, ombak laut itu semakin mengganas hingga lepaslah perahu itu dari genggaman mereka dan perahu itu pun kembali ke tengah laut dan Syaikh pun tenggelam ke dalam arus gelombang.
Kemudian, laut itu sedikit tenang, sehingga mereka menyelamatkan para korban yang tenggelam, namun tak seorang pun mengetahui Syaikh karena saking dinginnya dan melawan ombak. Mereka mengira beliau telah wafat, tetapi seorang sepuh berkata: Pukullah dua kakinya dan tengadahkan kepalanya agar air yang ada di kerongkongannya keluar. Jika itu ada (jalan) kehidupan, niscaya Allah kan menghidupkannya.
Waktu pun berlalu lama, sementara Syaikh masih seperti semula. Tiba-tiba beliau kembali bergerak dan bernafas secara perlahan-lahan, kemudian keadaan beliau kembali normal setelah berhari-hari lamanya.
Dan saat tenggelam itu beliau membawa sejumlah kitab-kitab berharga, diantaranya: manuskrip abad ke-6 dan ke-7 hijriyyah. Dan itu merupakan barang yang sangat berharga. Beliau membawanya, peduli kepadanya untuk menemaninya ketika bersafar. Dan diantaranya ada sejumlah risalah, ada kitab tentang Manâqib Abi Hanifah karya Ibn Hajar al-Haitami, belum dicetak, dan kitab Aqîdah al-Thahâwi ditulis oleh Ibnul 'Adim, beliau ini populer akan kemahiran dalam tulisan tersebut dan terhadap tulisan itulah tasmi'ât (proses sama' mempelajari kitab itu) berkesinambungan. Dan kitab langka dan berharga yang lain selain dua kitab itu pun lenyap ditelan air. Tinggallah Syaikh bersedih sepanjang hidup beliau -Rahimahullâh-.
Saya terjemah dari kitab beliau:
صفحات من صبر العلماء ص ٢٧٤ - ٢٧٥
Komentar