Islam Tersebar Bersama Hunusan Pedang?

Pada dasarnya, Istilah ini di sematkan pada islam karena begitu cepat berkembang, di sisi lain, istilah ini juga memiliki konotasi negatif, yakni bahwa penyebaran islam hanya memakai sistem kekerasan, penjajahan, penaklukan, penjarahan dan semacamnya. Terlebih jika hanya membaca beberapa buku hadis secara terpetak, tanpa membandingkan dengan banyak ragam teks hadis dan syarah yang lain, tentu bisa berakibat fatal.

[Salah satunya adalah hadis yang di sabdakan Nabi Muhammad Saw berikut, kemudian dijelaskan secara ringkas oleh Ibn Rajab al-Hambali. Berikut bunyi hadisnya: Aku diutus melalui pedang, barang siapa tidak menerima dakwah ini setelah mendengar hujjah dan penjelasan, maka kami ajak lewat pedang. || HR: Ahmad.

Jika pemahaman pengalan hadis ini hanya berdasarkan kitab yang ditulis Ibnu Rajab, maka bisa berakibat sangat fatal, sebab kalimat yang ia pakai lumayan berat jika tidak di sandingkan dengan syarah kitab-kitab hadis yang lain.]

Secara logis, tersebarnya islam kala itu memang ada pantesnya jika penyematan ini digaungkan kepada islam, sebab hanya dalam waktu setidaknya kurang dari 300 abad, Islam sudah dianut oleh separuh masyarakat bumi, terbentang dari India hingga Maroko, bahkan menurut catatan sejarah, penyebaran islam kala itu sudah meluas hingga ke daerah Spanyol, prancis, China dan Nusantara atau semenanjung asia tenggara.

Mari kita flashback lagi, bagaimana metode awal penyebaran islam berdasarkan catatan sejarah.

Pada priode awal penyebaran islam, sejauh Nabi Muhammad Saw di angkat menjadi Nabi hingga penyebaran dakwah selama 10 tahun melalui peperangan kala itu, jika ditotal ada 80 peperangan.

Akan tetapi jumlah peperangan yang benar-benar terjadi hingga memakan korban jiwa antara kaum muslimin dan kaum kafirin hanya berjumlah 7 peperangan saja, sisanya berakhir dengan akad suluh atau akad damai.

Korban jiwa yang gugur dari kalangan muslimin dari 7 kali peperangan hanya berjumlah 132 jiwa dan korban dari pihak kafirin hanya berjumlah 112 jiwa, maka total keseluruhan korban yang gugur dari dedua belah pihak hanya mencapai angka 251 jiwa saja.

Jika ditotal, angka korban jiwa antara kedua belah pihak dari 7 kali peperangan yang ada, maka pada setiap peperangan setidaknya hanya memakan 3 korban jiwa dari masing-masing kedua belah pihak.

Angka ini sama sekali belum mencapai angkat 1% jika dibandingkan dengan perang dunia pertama yang memakan korban hingga mencapai angka 37 juta korban cidera dan 8 juta korban jiwa yang terjadi pada tahun 1914-1918 M.

Belum lagi perang dunia ke II yang terjadi pada tahun 1939-1945 M. Yang memakan korban hingga mencapai angka 62 juta jiwa.

Oleh karena itu, klaim bahwa islam disebarkan berdasarkan hunusan pedang atau kekerasan sama sekali tidak benar. Sebab metode dakwah islam sama sekali tidak bermuara ke arah itu, metode dakwah penyebaran islam sangat berfariasi, antara lain melalui perdangan, pernikahan, hingga kasih sanyang, tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan, para lensia, dilarang menebang atau merusak pepohonan dan lain-lain.

Sedangkan munculnya peperangan hanya sebagai bentuk membela diri, agama dan kemaslahatan dari pihak kaum muslimin dan orang kafir yang patuh terhdapa undang-undangnya.

Dari sini, setidaknya kita bisa menilai, siapa penjajah yang sebenarnya, siapa perampas hak orang lain, islam atau kalian?

|| Share jika dirasa berguna untuk anda dan orang lain.

Ismail Abdll.
Fak. Hadis Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meninjau Ulang Kritikan Habib Hanif Alatas terhadap fatwa Habib Ali al-Jufri perihal legalitas mengucapkan "Selamat Natal".

Legalitas Hadis Daif Dalam Perspektif al-Bani (Tokoh paling berpengaruh sekte salafi-wahhabi)

Keberadaan dan Kiprah Kaum Perempuan dalam Dunia Pendidikan